Entahlah, tiba-tiba aku rindu laut. Sekian bulan tak merasakan udara yang menghembus dari selat Makassar. Pada permainan ombak yang mengayunkan perahu-perahu nelayan sedang mengail ikan. Pada awan yang menggantung di pendar matahari tenggelam. Pada burung camar yang pulang ke sarangnya. Aku refleks mencari sesuatu di antara sudut lemari sepatu dan kardus yang tersusun. Galenrong, tali pancing, mata kail, senter. Semuanya masih rapi dalam satu kotak plastik di atas lemari.
Aku berhenti sejenak. Duduk di kursi kayu dengan segelas kopi masih tersisa setengah di atas meja. Mataku tajam menatap keluar, meluaskan pandang pada bentang cakrawala. Cuaca cerah, gumpalan awan memang ada tapi jauh di ufuk timur, bukan penanda akan terjadi perubahan cuaca secara cepat seperti belakangan ini. Matahari sudah menggelicir ke barat dan hawa panasnya mulai meredup. Tidak seperti tadi, panasnya menyisakan perih di kulit.
Aku sudah keluar dari rumuh menyusur jalan menuju pantai. Beberapa warga menyapaku dan masih bertanya arah kakiku melangkah. Padahal begitu melihat keadaanku mereka pasti tahu kalau aku akan pergi memancing. Itu hanya tegur sapa. cara warga merawat persaudaraan. Aku memahami benar kebiasaan-kebiasaan itu.
Menyusuri bibir pantai yang tak lagi putih membujur sebagaimana waktu dulu. Aku disajikan sampah rumah tangga yang memanjang dan bau. Nyaris menimbun keseluruhan pasir putih yang menghampar. Pantai menjadi perut untuk semua sampah yang diangkut dari dapur-dapur setiap rumah. Pantai menjadi penampung untuk persoalan kebijakan yang tidak pernah ditangani utuh. Atau sampah hanyalah masalah rutin yang hanya tuntas di meja-meja seminar berbiaya tinggi.
Aku tetap membulatkan niat untuk melaut. Sentuhan pertama dari hempasan ombak kecil merayap dan menjilat kaki. Masih terasa hangat air laut di permukaan meskipun di bagian dalamnya terasa dingin. Kehangatan ini mungkin masih bias dari terik matahari yang memanggang. Angin sepoi mulai menyapa ketika perahu melaju di dorong mesin tempel. Navigator andal mengendali dari belakang sambil tangan kanannya cekatan menggeser posisi guling. Di tangannya juga menjepit sebatang rokok. Asapnya menguap bersatu dengan udara laut. Dia bernama Israr. Ponakan yang selalu mengajakku melaut di waktu senggang. Orangnya ramah dan serba bisa. Pekerjaan apapun hampir semua mampu di kerjakan. Di sampingku ada Isman. Dia juga ponakan, bersaudara dengan Israr. tak pernah alpa kalau urusan mancing. Orangnya pendiam, badannya kelihatan lebih kurus tidak proporsi dengan tubuhnya yang jangkung. Kini matanya memandang jauh ke depan. Sesekali mengarahkan kakaknya jika di depan ada batang kayu mengapung, atau ada nelayan yang sementara memancing.
Ketika memancing seperti ini. Aku lebih suka memanjakan mata dengan melihat moment-momen yang tersaji dan tak ada di kehidupan darat. Sampan-sampan kecil menari dalam ayunan ombak dengan arus dari timur. Anak-anak nelayan mendayung sampan sendirian mencari spot ikan yang kemarin hasil mancingnya lumayan. Mereka di laut seperti di daratan saja. Tak ada rasa khawatir apapun seperti perahu tenggelam, terbawa arus, atau pun tiba-tiba cuaca buruk. Di sini juga seliweran kapal-kapal besar meskipun jalurnya jauh dari tempat kami memancing. Kapal-kapal ini dari Kalimantan menuju Pare-Pare dan Makassar membawa penumpang, kendaraan, peti kemas. Dari sini juga sangat jelas gunung dan perbukitan memanjang dari utara ke selatan. Dari hamparan gunung dan perbukitan yang menghijau ada kawasan di utara yang mulai tandus. Kendaraan berat seperti truck, loader, eskavator menggerayanginya, merayap dari satu tempat ke tempat lain. Mengangkut material batu dan pasir dan menumpukkannya pada kawasan penampungan. Di otakku menari efek lingkungan seperti banjir dan longsor turun mengahajar kawasan pemukiman warga.
Perahu terus melaju menuju spot yang selama ini kami tempati. Akhirnya tiba di titik yang ditunjuk. Sauh di buang, tali dikendorkan ke bawah sekira 40 meter. Selanjutnya, kami mulai memancing. Matahari semakin menggelincir ke barat membiaskan warna keemasan. Sudah hampr 1 jam kami di sini. Beberapa mata pancing sudah berhasil menaikkan ikan ke dalam perahu. Ikan sunu, kakap, dan lainnya menggelapar. Alhamdulillah.

Posting Komentar untuk "Menjawab Rindu tentang Laut"