Mengapa Perundungan Sering Terjadi?




                                                                      Sumber ilustrasi: https://pixabay.com

Jemari lentik menyentuh tuts gawai di jam-jam yang sudah rileks. Sesudah magrib seusai sholat. Ketika kertas-kertas  sudah berhenti dibolak-balik sejak pagi sampai siang. Ketika temaram senja semakin meredup dan bintang-gemintang  mulai mengerlip di atas  bayang daun kelapa yang melambai pelan.

Kembali tentang jemari yang memainkan gawai. Beragam konten bermunculan silih berganti. Tentang Palestina dan Israel  yang memasuki babak baru genjatan senjata dan logistik memasuki kawasan perang yang hancur bersisa puing. Tentang Pak Purbaya, sang  menteri keuangan yang gesit memainkan argumen keuangan dan menangkis berbagai mortir isu dan lebih cekatan turun ke lapangan menebaskan pedang mengeksekusi model nyolong uang negara. Begitupun tentang PSSI yang dihujat efek timnas tak lolos Piala Dunia.

Di antara hot news yang berseliweran ada  berita tentang dunia pendidikan kita yang tak kalah menariknya. Tentang seorang kepala sekolah yang mendisiplinkan siswa yang kedapatan merokok di area sekolah. Tepatnya, di SMAN 1 Cimarga Banten.  Sang kepala sekolah menegur   lalu menampar sang anak. Siswa itu tak terima, orang tuanya protes dan melapor ke polisi. Akibatnya, sang kepala sekolah sempat  dinonjobkan oleh Gubernur. Selanjutnya, apakah berujung pidana atau damai, itu momen berikutnya. Beragam komentar warganet tentang ini.

Di belahan provinsi yang lain yang tak kalah hebatnya tentang seorang siswi SMK yang melakukan perundungan (bullying) kepada temannya. Sang korban dipukul dan ditendang berulangkali disertai bentakan berisi makian. Tepatnya di SMKN Balanipa, di Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Warga net kembali ramai. Beribu hujatan tumpah di ruang  maya menanggapi itu. Beragam umpatan tak terima  deras mengalir seperti banjir bandang di siang bolong. Mereka menuntut polisi bertindak dan tak cukup hanya sekadar minta maaf oleh keluarganya.

Dunia pendidikan  dengan segala dinamikanya tak pernah surut dalam trending topik, dan hiruk-pikuk  kehidupan masyarakat. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) pernah  merilis data kasus bullying atau perundungan di sekolah tahun 2023. Dari Januari hingga September, tercatat ada 285 kasus bullying.
Dari 285 kasus tersebut, 50% terjadi di jenjang SMP, 23% di jenjang SD, 13,5% di jenjang SMA, dan 13,5% di jenjang SMK. Kasus paling banyak terjadi di jenjang SMP dan dilakukan oleh sesama siswa maupun dari pendidik.

Tahun 2024 data bullyng menunjukkan tren peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Data ini dikumpulkan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melalui berbagai laporan yang diterima, baik melalui media sosial maupun situs resmi JPPI. JPPI mencatat terdapat 573 kasus kekerasan yang dilaporkan di lingkungan pendidikan, termasuk sekolah, madrasah, dan pesantren. Jumlah ini mengalami lonjakan yang signifikan.

Sebagai perbandingan, pada 2020 tercatat 91 kasus kekerasan yang diterima. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 142 kasus pada 2021, 194 kasus pada 2022, dan 285 kasus pada 2023.

Angka-angka ini dikhawatirkan menunjukkan tren peningkatan kasus bullying dari tahun ke tahun. Selain itu, lonjakan laporan kasus juga mengindikasikan adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan dan perundungan.

Selain itu, kekerasan di lingkungan pendidikan juga mencakup kekerasan fisik berjumlah 10 persen, dan kekerasan psikis 11 persen. Tercatat juga ada kebijakan diskriminatif dengan persentase 6 persen. Selain itu, lingkungan pendidikan berbasis agama turut menjadi perhatian, dengan 206 kasus kekerasan. Berdasarkan rincian tersebut total kekerasan yang dilaporkan adalah 16 persen atau 92 kasus terjadi di madrasah dan 20 persen atau 114 kasus di pesantren.

Angka-angka ini dikhawatirkan menunjukkan tren peningkatan kasus bullying dari tahun ke tahun. Selain itu, lonjakan laporan kasus juga mengindikasikan adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan dan perundungan.

Membaca data-data tentang trend kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan reflek menumbuhkan beberapa pertanyaan mendasar. Pertanyaan pertama, mengapa sering terjadi tindak kekerasan  yang dilakukan oleh para siswa di sekolah?

Penulis mencoba mengurai jawaban satu demi satu sebagai sebagai jalan keluar atas berbagai masalah yang booming akhir-akhir ini. Dari laman www.alodokter.com/9-penyebab-bullying-dan-cara-mencegahnya dipaparkan bahwa penyebab orang atau siswa (penulis) melakukan bullying antara lain:

1.   Pernah melihat orang lain melakukan kekerasan. Penyebab bullying biasanya dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggal. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan suasana rumah yang hangat dan harmonis. Hal ini karena keluarga adalah tempat pertama untuk belajar bersosialisasi dan hidup bersama orang lain. Namun, adanya hubungan atau interaksi yang tidak baik dalam keluarga akan menjadi penyebab seseorang memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Tidak hanya keluarga, lingkungan tempat tinggal yang tidak aman juga dapat menyebabkan seseorang menjadi pelaku bullying.

2. Kesalahan pola asuh keluarga yang terlalu keras.Kebiasaan menggunakan hukuman fisik sebagai cara mendidik anak yang berbuat salah bisa menjadi penyebab bullying. Pola asuh yang banyak melibatkan kekerasan fisik bisa membentuk karakter seseorang untuk menjadi lebih agresif dan kasar terhadap orang lain. Akibatnya, perbuatan untuk menindas orang lain pun tidak akan segan dilakukan. Tak hanya itu, hukuman yang diberikan biasanya akan membuat seseorang memendam emosi negatif, sehingga hal ini bisa membuat ia ingin melampiaskannya ke orang lain juga.

3. Pernah menjadi menjadi korban bully. Orang yang pernah mendapatkan perilaku bully, misalnya diejek atau dipukul, bisa menjadi pelaku perundungan terhadap orang lain. Ini merupakan salah satu bentuk pelampiasan akibat perilaku bully yang ia terima. Untuk mencegah hal ini terjadi, penting bagi orang terdekat untuk mengenali perubahan perilaku seseorang dan memberitahunya agar ia bisa menghadapi sikap ini dengan bijak.

4. Kurang mendapatkan perhatian dari keluarga dan orang di sekitarnya. Kurangnya perhatian dan kasih sayang bisa menjadi penyebab bullying. Misalnya, anak-anak akan mencari perhatian dengan cara tidak mengerjakan PR. Namun, jika tidak berhasil mendapatkan perhatian, ia akan melakukan perbuatan lain yang lebih ekstrim, misalnya dengan melakukan bullying pada temannya, agar bisa mendapatkan perhatian yang diinginkan.

5. Ingin memiliki kekuasaan dan memegang kendali. Orang yang ingin memiliki kekuasaan biasanya cenderung ingin mengontrol dan mengendalikan segala hal. Beberapa orang juga akan memilih untuk berinteraksi dengan orang lain yang menurutnya bisa untuk dikontrol dan memenuhi keinginannya. Namun, ketika hal-hal tidak berjalan dengan yang diinginkan, ia mungkin akan melakukan intimidasi dalam bentuk bullying. Biasanya hal ini terjadi pada orang yang memiliki pola asuh yang salah atau gangguan kepribadian.

6. Ingin dianggap popular. Beberapa orang terkadang ingin dikenal dan menjadi populer di lingkungannya. Namun, mereka bisa mencari ketenaran dengan melakukan hal yang tidak baik, termasuk bullying. Tidak jarang mereka akan meledek, menjahili, menggosip, dan mengucilkan orang lain untuk mendapatkan pengakuan. Perilaku ini juga termasuk salah satu bentuk peer pressure, jika bullying banyak dilakukan oleh teman di sekolah, kantor, atau tempat tinggal.

7. Kurang edukasi dan empati. Pendidikan dan pola asuh yang baik merupakan salah satu faktor penting agar seseorang bisa memiliki karakter yang baik. Salah satu ciri karakter yang baik adalah memiliki akhlak dan empati.Orang yang tidak dididik dengan baik bisa menjadi kurang berempati, sehingga tidak merasa bersalah ketika melakukan hal yang tidak terpuji, termasuk bullying. Berbagai riset menunjukkan bahwa pola asuh dan pendidikan yang mendorong empati dapat membuat seseorang lebih mudah menghargai dan menghormati orang lain. Dengan begitu, terbentuklah sifat lebih mawas diri dan menyadari bahwa bullying merupakan perilaku yang salah dan tidak boleh dilakukan.

8. Supaya bisa berbaur dan berteman. Penyebab bullying bisa terjadi bukan karena keinginan pelaku, tetapi pengaruh dari orang-orang terdekatnya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk bisa diterima dalam lingkup pergaulan di lingkungannya. Selain itu, bullying juga bisa dilakukan agar seseorang tidak menjadi sasaran bully selanjutnya. Perilaku ini biasanya terjadi pada pergaulan yang toxic.

9. Pengaruh game yang dimainkan. Di zaman digital ini, sudah bukan hal yang asing lagi jika orang dari berbagai kalangan dan usia menggunakan handphone dalam kegiatan sehari-hari. Berkat adanya gadget tersebut, semua informasi dan hiburan bisa lebih mudah didapatkan, salah satunya adalah bermain game online.

Sayangnya, handphone dan game online bisa disalahgunakan jika penggunaanya tidak dibatasi. Hal ini nantinya bisa menjadi penyebab bullying.

Beberapa riset mengungkapkan bahwa game online bisa menjadi tempat bagi pemainnya untuk melakukan cyberbullying, biasanya dalam bentuk hinaan, ejekan, atau hujatan. Ketika seseorang mengalami cyberbullying, ia bisa memendam emosi dan melampiaskannya pada orang lain dalam bentuk bullying di dunia nyata.

Meski demikian, tidak semua orang yang bermain game online akan menjadi pelaku bullying.

 

Referensi:

-https://www.alodokter.com/9-penyebab-bullying-dan-cara-mencegahnya.

-https://tirto.id/data-kasus-bullying-terbaru-2024

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Mengapa Perundungan Sering Terjadi?"