Jemari lentik
menyentuh tuts gawai di jam-jam yang sudah rileks. Sesudah magrib seusai
sholat. Ketika kertas-kertas sudah
berhenti dibolak-balik sejak pagi sampai siang. Ketika temaram senja semakin
meredup dan bintang-gemintang mulai mengerlip
di atas bayang daun kelapa yang melambai
pelan.
Kembali
tentang jemari yang memainkan gawai. Beragam konten bermunculan silih berganti.
Tentang Palestina dan Israel yang
memasuki babak baru genjatan senjata dan logistik memasuki kawasan perang yang
hancur bersisa puing. Tentang Pak Purbaya, sang menteri keuangan yang gesit memainkan argumen
keuangan dan menangkis berbagai mortir isu dan lebih cekatan turun ke lapangan
menebaskan pedang mengeksekusi model nyolong uang negara. Begitupun
tentang PSSI yang dihujat efek timnas tak lolos Piala Dunia.
Di antara hot
news yang berseliweran ada berita
tentang dunia pendidikan kita yang tak kalah menariknya. Tentang seorang kepala
sekolah yang mendisiplinkan siswa yang kedapatan merokok di area sekolah. Tepatnya,
di SMAN 1 Cimarga Banten. Sang kepala sekolah
menegur lalu menampar sang anak. Siswa itu tak terima,
orang tuanya protes dan melapor ke polisi. Akibatnya, sang kepala sekolah
sempat dinonjobkan oleh Gubernur.
Selanjutnya, apakah berujung pidana atau damai, itu momen berikutnya. Beragam
komentar warganet tentang ini.
Di belahan
provinsi yang lain yang tak kalah hebatnya tentang seorang siswi SMK yang
melakukan perundungan (bullying) kepada temannya. Sang korban dipukul dan
ditendang berulangkali disertai bentakan berisi makian. Tepatnya di SMKN
Balanipa, di Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Warga net kembali
ramai. Beribu hujatan tumpah di ruang
maya menanggapi itu. Beragam umpatan tak terima deras mengalir seperti banjir bandang di
siang bolong. Mereka menuntut polisi bertindak dan tak cukup hanya sekadar minta
maaf oleh keluarganya.
Dunia
pendidikan dengan segala dinamikanya tak
pernah surut dalam trending topik, dan hiruk-pikuk kehidupan masyarakat. Federasi Serikat Guru
Indonesia (FSGI) pernah merilis data
kasus bullying atau perundungan di sekolah tahun 2023. Dari Januari hingga
September, tercatat ada 285 kasus bullying.
Dari 285 kasus tersebut, 50% terjadi di jenjang SMP, 23% di jenjang SD, 13,5%
di jenjang SMA, dan 13,5% di jenjang SMK. Kasus paling banyak terjadi di
jenjang SMP dan dilakukan oleh sesama siswa maupun dari pendidik.
Tahun 2024
data bullyng menunjukkan tren peningkatan dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya. Data ini dikumpulkan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan
Indonesia (JPPI) melalui berbagai laporan yang diterima, baik melalui media
sosial maupun situs resmi JPPI. JPPI mencatat terdapat 573 kasus kekerasan yang
dilaporkan di lingkungan pendidikan, termasuk sekolah, madrasah, dan pesantren.
Jumlah ini mengalami lonjakan yang signifikan.
Sebagai
perbandingan, pada 2020 tercatat 91 kasus kekerasan yang diterima. Jumlah
tersebut kemudian meningkat menjadi 142 kasus pada 2021, 194 kasus pada 2022,
dan 285 kasus pada 2023.
Angka-angka
ini dikhawatirkan menunjukkan tren peningkatan kasus bullying dari
tahun ke tahun. Selain itu, lonjakan laporan kasus juga mengindikasikan adanya
peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan dan
perundungan.
Selain itu,
kekerasan di lingkungan pendidikan juga mencakup kekerasan fisik berjumlah 10 persen, dan kekerasan
psikis 11 persen. Tercatat juga ada kebijakan diskriminatif dengan persentase 6
persen. Selain itu, lingkungan pendidikan berbasis agama turut menjadi
perhatian, dengan 206 kasus kekerasan. Berdasarkan rincian tersebut total
kekerasan yang dilaporkan adalah 16 persen atau 92 kasus terjadi di madrasah
dan 20 persen atau 114 kasus di pesantren.
Angka-angka
ini dikhawatirkan menunjukkan tren peningkatan kasus bullying dari
tahun ke tahun. Selain itu, lonjakan laporan kasus juga mengindikasikan adanya
peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan dan
perundungan.
Membaca
data-data tentang trend kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan reflek
menumbuhkan beberapa pertanyaan mendasar. Pertanyaan pertama, mengapa sering
terjadi tindak kekerasan yang dilakukan
oleh para siswa di sekolah?
Penulis
mencoba mengurai jawaban satu demi satu sebagai sebagai jalan keluar atas
berbagai masalah yang booming akhir-akhir ini. Dari laman www.alodokter.com/9-penyebab-bullying-dan-cara-mencegahnya
dipaparkan bahwa penyebab orang atau siswa (penulis) melakukan bullying antara
lain:
1.
Pernah melihat orang lain melakukan
kekerasan. Penyebab bullying biasanya dimulai dari
lingkungan sekitar tempat tinggal. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan
suasana rumah yang hangat dan harmonis. Hal ini karena keluarga adalah tempat
pertama untuk belajar bersosialisasi dan hidup bersama orang lain. Namun,
adanya hubungan atau interaksi yang tidak baik dalam keluarga akan menjadi
penyebab seseorang memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Tidak hanya
keluarga, lingkungan tempat tinggal yang tidak aman juga dapat menyebabkan
seseorang menjadi pelaku bullying.
2. Kesalahan pola asuh keluarga yang terlalu keras.Kebiasaan
menggunakan hukuman fisik sebagai cara mendidik anak yang berbuat salah bisa menjadi
penyebab bullying. Pola asuh yang banyak melibatkan
kekerasan fisik bisa membentuk karakter seseorang untuk menjadi lebih agresif
dan kasar terhadap orang lain. Akibatnya, perbuatan untuk menindas orang lain
pun tidak akan segan dilakukan. Tak hanya itu, hukuman yang diberikan
biasanya akan membuat seseorang memendam emosi negatif, sehingga hal ini bisa
membuat ia ingin melampiaskannya ke orang lain juga.
3. Pernah menjadi menjadi korban bully.
Orang yang pernah mendapatkan perilaku bully, misalnya diejek
atau dipukul, bisa menjadi pelaku perundungan terhadap orang lain. Ini
merupakan salah satu bentuk pelampiasan akibat perilaku bully yang
ia terima. Untuk mencegah hal ini terjadi, penting bagi orang terdekat
untuk mengenali perubahan perilaku seseorang dan memberitahunya agar ia bisa
menghadapi sikap ini dengan bijak.
4. Kurang mendapatkan perhatian dari keluarga
dan orang di sekitarnya. Kurangnya perhatian dan kasih sayang bisa menjadi
penyebab bullying. Misalnya, anak-anak akan mencari perhatian
dengan cara tidak mengerjakan PR. Namun, jika tidak berhasil mendapatkan
perhatian, ia akan melakukan perbuatan lain yang lebih ekstrim, misalnya dengan
melakukan bullying pada temannya, agar bisa mendapatkan
perhatian yang diinginkan.
5. Ingin memiliki kekuasaan dan memegang kendali.
Orang yang ingin memiliki kekuasaan biasanya cenderung ingin mengontrol dan
mengendalikan segala hal. Beberapa orang juga akan memilih untuk berinteraksi
dengan orang lain yang menurutnya bisa untuk dikontrol dan memenuhi
keinginannya. Namun, ketika hal-hal tidak berjalan dengan yang diinginkan, ia
mungkin akan melakukan intimidasi dalam bentuk bullying. Biasanya
hal ini terjadi pada orang yang memiliki pola asuh yang salah atau gangguan
kepribadian.
6. Ingin dianggap popular. Beberapa orang
terkadang ingin dikenal dan menjadi populer di lingkungannya. Namun, mereka
bisa mencari ketenaran dengan melakukan hal yang tidak baik, termasuk bullying.
Tidak jarang mereka akan meledek, menjahili, menggosip, dan mengucilkan orang
lain untuk mendapatkan pengakuan. Perilaku ini juga termasuk salah satu
bentuk peer pressure, jika bullying banyak
dilakukan oleh teman di sekolah, kantor, atau tempat tinggal.
7. Kurang edukasi dan empati. Pendidikan dan
pola asuh yang baik merupakan salah satu faktor penting agar seseorang bisa
memiliki karakter yang baik. Salah satu ciri karakter yang baik adalah memiliki
akhlak dan empati.Orang yang tidak dididik dengan baik bisa menjadi
kurang berempati, sehingga tidak merasa bersalah ketika melakukan
hal yang tidak terpuji, termasuk bullying. Berbagai riset
menunjukkan bahwa pola asuh dan pendidikan yang mendorong empati dapat membuat
seseorang lebih mudah menghargai dan menghormati orang lain. Dengan begitu,
terbentuklah sifat lebih mawas diri dan menyadari bahwa bullying merupakan
perilaku yang salah dan tidak boleh dilakukan.
8. Supaya bisa berbaur dan berteman. Penyebab bullying bisa
terjadi bukan karena keinginan pelaku, tetapi pengaruh dari orang-orang
terdekatnya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk bisa diterima
dalam lingkup pergaulan di lingkungannya. Selain itu, bullying juga
bisa dilakukan agar seseorang tidak menjadi sasaran bully selanjutnya.
Perilaku ini biasanya terjadi pada pergaulan yang toxic.
9. Pengaruh game yang dimainkan.
Di zaman digital ini, sudah bukan hal yang asing lagi jika orang dari
berbagai kalangan dan usia menggunakan handphone dalam kegiatan sehari-hari. Berkat
adanya gadget tersebut, semua informasi dan hiburan bisa lebih
mudah didapatkan, salah satunya adalah bermain game online.
Sayangnya, handphone dan game online bisa disalahgunakan jika
penggunaanya tidak dibatasi. Hal ini nantinya bisa menjadi penyebab bullying.
Beberapa riset mengungkapkan bahwa game online bisa
menjadi tempat bagi pemainnya untuk melakukan cyberbullying, biasanya dalam bentuk hinaan, ejekan,
atau hujatan. Ketika seseorang mengalami cyberbullying, ia bisa
memendam emosi dan melampiaskannya pada orang lain dalam bentuk bullying di
dunia nyata.
Meski demikian, tidak semua orang yang bermain game online akan menjadi
pelaku bullying.
Referensi:
-https://www.alodokter.com/9-penyebab-bullying-dan-cara-mencegahnya.
-https://tirto.id/data-kasus-bullying-terbaru-2024

Posting Komentar untuk "Mengapa Perundungan Sering Terjadi?"