Perahu Itu Tanpa Nakhoda

 

                                                                              Sumber foto: Koleksi  Maskur Syair

Tangan perempuan itu terus bergerak. Memisahkan beberapa pakaian yang teronggok di dalam baskom besar. Diraihnya Rinso yang menggantung di tembok dan dilarutkannya ke dalam wadah cucian   satu-demi satu. Dia menunggu beberapa waktu   agar deterjen itu benar-benar larut bersama pakaian-pakaian kotor lainnya. Kini peluh mengucur dari wajahnya yang lebih menua dari usia sebenarnya.

“Panas!” Seorang perempuan keluar dari balik pintu dan menyapanya.

“Cari tempat teduh.” Tangannya menunjuk ke sudut  yang dinaungi atap seng bergelombang.

“Iye, Puang!” Ramlah menggeser  satu baskom ke sudut yang ditunjuk perempuan separuh baya itu. Tangannya kini mulai bergerak mengucek pakaian satu-demi satu, tampak busa mengapung.

“Ma!, Seorang bocah tetiba muncul dan menyodorkan tangannya. Ramlah tersenyum dan memberi kode dengan lembut.

“Iya, Ma!” Anak itu kini membalikkan tubuhnya dan lenyap di alur jalan setapak menuju lapangan bola.

Sebenarnya Ramlah melakoni pekerjaan sebagai tukang cuci baru setahun belakangan. Dia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama anak semata wayangnya. Mereka tinggal di rumah sederhana  di pinggir pantai menghadap laut. Sejak pandemi corona menyusup dari kota ke kampungnya sejak itu juga pekerjaan sangat susah. Dulu beras sekarung selalu ada sampai akhir bulan masih tersisa sedikit. Untuk lauk pauk seperti ikan dan sayur-sayuran tak pernah kosong di kulkasnya. Dulu kalau anaknya datang minta jajan agak jarang ditolaknya meskipun yang dikasih hanya dua ribuan pembeli kerupuk dan es keliling yang lewat tiap hari. Belum lagi kalau ada tetangga dan keluarganya yang datang pinjam uang. Dia masih bisa meminjamkannya walau tak juga banyak.

Panas mulai memanggang, sinar matahari mulai tembus di pucuk-pucuk daun pisang. Ramlah benar-benar keringatan menjemur pakaian itu satu demi satu di tali jemuran yang terentang di antara pohon-pohon kelapa.

“Jangan lupa dijepit ya!” Puang Bulang muncul dari belakang dan mengingatkannya.

“Iye, Puang.” Tangannya kini mulai menjepit pakaian-pakaian itu agar tak jatuh diterjang  angin.

“Kalo sudah saya tunggu di belakang.” Puang Bulang kini memunggunginya dan lenyap di balik pintu rumahnya yang besar. Ramlah  kini menyeka keringatnya, setetes turun melewati bibirnya. Asin. Dikumpulkannya baskom yang tadi digunakan membilas dan menyatukannya di balai-balai di kolong rumah. Langkahnya kini menyusul perempuan tua itu  yang sejak tadi menunggunya.

“Ramlah, ini upah cuciannmu bulan ini.” Puang Bulan memindahkan uang seratus ribu lima lembar ke tangan Ramlah.

“Terima kasih, Puang.” Ramlah membungkuk menerima uang itu.

“Ini untuk anakmu sekadar jajan.” Perempuan bersahaja itu mengulurkan tangannya.

“Tidak usah, Puang. Ini cukup.” Ramlah berusaha menolak dengan halus. Puang Bulang member isyarat agar uang itu diterima. Ramlah kembali membungkuk.

*****

“Ini apa, Ma?” Erwin tiba-tiba muncul dari belakang. Tangannya menunjuk sebuah benda  warna putih yang menggantung di kolong rumah.

“Itu ba..basung, tempat menyimpan alat-alat mancing.” Ramlah menjawab terbata-bata. Di tatapnya bocah itu. Wajah suaminya begitu jelas. Pikirannya menerawang.

Entah apa yang membuat Hardi suaminya memutuskan untuk melaut di subuh  itu. Biasanya kalau Jumat dia tak ke mana-mana. Dia meyakini kalau setiap hari Jumat hanya tinggal di rumah dan ke Masjid di ujung kampung. Itu dijalaninya sebelum mereka menikah. Subuh itu dia  mengangkat mesin dan memasangkannya di atas sandeq. Mesin itu kini meraung-raung  bersama mesin perahu lainnya. Mereka berkejaran satu-sama lain menuju roppo tempat biasa memancing ikan tongkol, tuna, pun hiu.  Hanya butuh waktu tiga puluh menit, beberapa nelayan mulai mendapatkan ikan karena memang di bawah roppo seliweran ikan-ikan predator itu. Hardi terpancing juga dengan tangkapan teman-temannya. Dia menjauh dari benda terapung itu dan meninggalkan teman-temannya. Dia tancap gas dan menuju ke Patong di utara. Sebuah spot mancing yang sudah di hapal nelayan di kampungnya. Kedalamannya hanya tiga puluh sampai enam puluh meter saja. Tapi di luar itu dalamnya sudah lebih dua ratus meter. Boleh dibilang  sebuah daratan yang terendam di tengah laut. Hardi sudah hapal di luar kepala di mana tuna, tongkol, hiu, barakuda di area itu. Tali pancingnya mulai terentang panjang ke belakang sambil sekali-sekali atur kemudi mengikuti insting yang selalu dilakoninya. Dia begitu yakin akan pulang dengan senyum seperti biasanya.

Perburuan para nelayan hanya berkisar  tiga sampai empat jam. Di atas pukul sepuluh biasanya ikan-ikan mulai malas menyambar umpan. Itu berarti alamat untuk putar kemudi kembali ke darat. Angin mulai bertiup dari barat daya dan membuat sandeq-sandeq itu menari-nari di atas gelombang.  Tono mulai berdiri dan mengayunkan tangannya menunjuk daratan. Itu tanda untuk pulang. Nelayan lain paham apa maksudnya.

“Mana Hardi?” Tanya Tono begitu perahu mereka saling merapat.

“Di Patong.” Iwan menjawab singkat.

“Iya, pasti nyusul sebentar.” Tono mulai menaikkan gas begitu juga nelayan lainnya. Mereka menghindari awan hitam yang tampak di kejauhan. Itu angin kencang yang sebentar lagi akan menerjang.

Dari jauh sebuah sandeq meluncur dengan kecepatan tinggi. Semakin lama semakin dekat.

“Awas! Ambil kiri-ambil kiri!” Tono berteriak sambil tangannya mengayun ke kiri.

“Prakkkk!” Sandeq  itu menabrak perahu Tono. Satu cadiknya patah, perahunya oleng ke kiri. Air mulai masuk ke lambung. Nelayan lain mulai panik dan marah.

“Oooi, itu sandeq Hardi, Hardi tidak ada di perahu.” Iwan berteriak. Para nelayan baru sadar kalau perahu itu meluncur sendiri.

Refleks para nelayan melakukan pencarian. Perahu Hardi diantar ke daratan dan perahu lainnya menuju ke Patong. Warga mulai memadati bibir pantai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga Ramlah, suaranya parau, air matanya berderai sambil menggendong anak semata wayangnya yang menangis kebingungan. Para tetangga menenangkannya sambil terus berdoa berharap lelaki itu selamat.

Awan yang sejak tadi menggantung di sebelah barat mulai bergerak. Angin laut kini menerjang sampai di perkampungan warga meliukkan pohon-pohon kelapa yang berdiri sepanjang pantai Pamboang. Gelombang tinggi juga ikut bergerak menghantam beberapa perahu yang berlabuh di sepanjang pantai. Lidah-lidah ombak memukul tanggul dan muntah sampai ke dinding rumah warga.

Warga mulai menepi menghindari terjangan angin dan hempasan gelombang yang semakin kuat. Pikiran mereka berkecamuk, membayangkan nasib Hardi yang menyisakan misteri. Semua perahu nelayan telah kembali. Cuaca yang tak bersahabat mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan pencarian hari itu. Ramlah masih bertahan di pinggir pantai menunggu suaminya pulang. Beberapa perempuan membujuknya untuk kembali ke rumah dulu sambil menunggu kabar. Kepala dusun langsung meyampaikan laporan ke polisi tentang kejadian naas itu.

Pencarian dilanjutkan esoknya, melibatkan para nelayan tetangga kampung, polisi, BPBD, Polairud dan Palang Merah. Mereka mulai menyusur titik-titik yang diperkirakan tempat Hardi terpisah dari perahunya. Sampai hari ketiga Hardi tak juga ditemukan. Tono, Iwan dan nelayan lainnya mulai meyakini kalau  Urita kawao penjaga Patong yang menarik Hardi ke dalam laut seperti  bulan lalu ketika seorang nelayan menarik sebatang kayu besar dengan perahunya di tempat itu. Kayu itu tiba-tiba tenggelam dan ikut menarik mundur perahunya. Masih jelas jari-jari raksasa  memancarkan cahaya sambil memeluk   kayu itu ke dalam laut. Untung nelayan itu  segera memutus tali  dengan sebilah parang.

         “Ma…Papa masih di laut ya?” Erwin tiba-tiba membuyarkan ingatan Ramlah. Matanya berair. Dipeluknya tubuh ringkih anak  itu lebih erat.

                                                                                    Pamboang, 12 Juni 2025


Kosa kata:

-Puang             = Kata sapaan kepada orang yang dihormati biasanya untuk kaum bangsawan                              Mandar

-Basung            = Wadah tempat perlengkapan memancing

-Roppo             =Rumpon

-Patong            =Area dangkal di laut Pamboang tempat ikan berbagai jenis.

-Urita Kawao  =Gurita raksasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Posting Komentar untuk "Perahu Itu Tanpa Nakhoda"